26
Sumedang — Suasana khidmat menyelimuti MTsS Persis Sumedang pada Selasa (28/04/2026), saat pelaksanaan hari kedua Ujian Madrasah (UM) berlangsung. Dua mata pelajaran yang diujikan, yakni Akidah Akhlak dan Matematika, menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa—menghadirkan ujian yang tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga menguji kedalaman nilai dan ketahanan mental.
Sejak pagi hari, para siswa sudah berdatangan lebih awal ke lingkungan madrasah. Wajah-wajah serius tampak mendominasi, menggantikan suasana santai seperti hari-hari biasa. Mereka memanfaatkan waktu sebelum ujian untuk membaca kembali catatan, berdiskusi ringan, hingga menenangkan diri dengan doa. Di beberapa sudut, tampak kelompok kecil siswa saling bertukar pemahaman, mengulang konsep penting, bahkan saling menguatkan dengan kalimat sederhana. Sementara itu, sebagian lainnya memilih menyendiri, menata fokus dan mengendalikan rasa cemas yang perlahan muncul menjelang ujian dimulai.
Pelaksanaan ujian sesi pertama dimulai dengan mata pelajaran Akidah Akhlak. Suasana ruang ujian tampak tenang dan penuh konsentrasi. Para siswa mengerjakan soal dengan penuh kehati-hatian, membaca setiap pertanyaan dengan saksama sebelum menuliskan jawaban. Materi yang diujikan tidak hanya menuntut daya ingat, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai keimanan, adab, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian siswa, lembar soal itu seakan menjadi ruang refleksi—mengajak mereka menilai kembali sejauh mana ilmu yang dipelajari telah meresap dalam sikap dan tindakan.
Memasuki sesi kedua, atmosfer berubah lebih tegang saat ujian Matematika dimulai. Jika sebelumnya ruang ujian terasa teduh, kini berubah menjadi ruang penuh konsentrasi tinggi. Soal-soal yang menuntut ketelitian dan logika membuat sebagian siswa terlihat lebih serius, bahkan sesekali menghela napas panjang. Keheningan ruang ujian semakin terasa, hanya diisi oleh suara goresan alat tulis di atas kertas. Beberapa siswa tampak berhenti sejenak, menatap soal dengan tajam, lalu mencoba berbagai pendekatan sebelum menemukan jawaban yang dianggap tepat. Ada pula yang menandai soal sulit untuk dikerjakan di akhir, strategi yang menunjukkan kesiapan mereka dalam mengelola waktu.
Pihak madrasah memastikan seluruh rangkaian ujian berjalan tertib dan lancar. Para guru pengawas menjalankan tugasnya dengan disiplin, sekaligus menjaga suasana tetap kondusif. Mereka tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai penjaga ritme ketenangan di dalam ruang ujian—hadir dengan sikap tegas namun tetap humanis, sehingga siswa dapat mengerjakan soal tanpa tekanan berlebih.
Pengawasan di setiap ruang ujian dilakukan secara optimal. Di ruang 1, ujian diawasi oleh Eva Faoziyah, di ruang 2 oleh Ridwan Dainuri, dan di ruang 3 oleh Eni Sofiah. Ketiganya menjalankan peran dengan penuh tanggung jawab, memastikan setiap siswa mengikuti ujian sesuai aturan yang telah ditetapkan, mulai dari ketertiban masuk ruang hingga kepatuhan terhadap tata tertib ujian.
Menurut Eni Sofiah, pelaksanaan ujian hari kedua menunjukkan kesiapan siswa yang semakin matang. “Alhamdulillah, secara umum pelaksanaan berjalan tertib. Siswa terlihat lebih siap dibanding hari sebelumnya, mereka mampu menjaga fokus dan mengerjakan soal dengan tenang,” tuturnya. Ia menilai, kesiapan tersebut tidak lepas dari proses pembelajaran dan pembiasaan disiplin yang telah diterapkan selama ini di madrasah.
Ia juga menambahkan bahwa pendekatan pengawasan yang dilakukan tidak hanya menekankan pada kedisiplinan, tetapi juga kenyamanan siswa. Dengan suasana yang kondusif dan pengawasan yang humanis, siswa dapat mengerjakan soal tanpa tekanan berlebih, namun tetap menjunjung tinggi nilai kejujuran sebagai prinsip utama dalam ujian. “Kami ingin mereka merasa diawasi, tetapi tidak tertekan. Yang terpenting adalah kejujuran dan usaha mereka sendiri,” tambahnya.
Hari kedua Ujian Madrasah ini mencerminkan keseimbangan pendidikan di madrasah. Akidah Akhlak menjadi fondasi pembinaan karakter yang membentuk arah dan nilai hidup siswa, sementara Matematika melatih kemampuan berpikir logis, sistematis, dan problem solving. Perpaduan keduanya menjadi cerminan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan kepribadian yang utuh.
Bagi para siswa MTsS Persis Sumedang, pelaksanaan ujian hari ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ini adalah bagian dari perjalanan panjang menuju masa depan. Di balik setiap jawaban yang mereka tuliskan, tersimpan usaha, doa, dan harapan. Dengan semangat dan kejujuran, mereka melangkah satu tahap lebih dekat menuju cita-cita yang mereka impikan—membuktikan bahwa dari doa yang dipanjatkan, lahir kekuatan untuk menaklukkan deret angka yang menantang.
Penulis: Mahdi
Editor: Fachri