26
Sumedang — Semangat literasi terus tumbuh di lingkungan pendidikan madrasah. Dua siswa MTsS Persis Sumedang menunjukkan langkah nyata dalam dunia kepenulisan dengan mengikuti Lomba Menulis Esai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) secara daring. Ajang ini menjadi ruang perjumpaan gagasan pelajar dari berbagai daerah melalui tulisan yang merefleksikan pengalaman, ide, dan pandangan mereka terhadap isu-isu literasi dan kehidupan sosial.
Dua siswa yang mewakili MTsS Persis Sumedang dalam kegiatan tersebut adalah Salwa Suzzanty Maulana (Kelas 8D), berdomisili di Dusun Kukulu RT 02 RW 05 Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan, serta Gendis Silvianingtyas (Kelas 8B), yang berasal dari Dusun Cipari RT 02 RW 07 Desa Sukajaya. Keduanya tampil sebagai bagian dari generasi muda yang mulai aktif mengembangkan kemampuan menulis di ruang literasi digital.
Partisipasi ini tidak lepas dari peran TBM Rumah Literasi yang hadir sebagai wadah pembinaan dan pengembangan literasi bagi masyarakat umum, khususnya warga di sekitar MTsS Persis Sumedang. Melalui berbagai kegiatan seperti membaca bersama, pelatihan menulis, pendampingan belajar, hingga penguatan literasi digital, TBM ini menjadi ruang tumbuhnya gagasan, kreativitas, dan partisipasi masyarakat dalam gerakan literasi.
Tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpulnya buku, TBM Rumah Literasi berkembang menjadi ruang belajar bersama yang terbuka, inklusif, dan berkelanjutan. Kehadirannya memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan, relawan literasi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem literasi yang hidup di sekitar madrasah.
Kepala MTsS Persis Sumedang, Budi Setiawan, S.Pd.I., menyambut baik keikutsertaan dua siswa tersebut dalam lomba. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga proses pembelajaran yang penting dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, keberanian menyampaikan gagasan, dan keterampilan menulis.
“Ini menjadi pengalaman berharga bagi siswa untuk berani menuangkan ide melalui tulisan. Literasi bukan hanya membaca, tetapi juga bagaimana mereka mampu merespons realitas dengan bahasa yang tertulis,” ungkapnya.
Sementara itu, para peserta mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam proses penulisan esai. Mulai dari mencari ide, menyusun argumen, hingga menyelesaikan tulisan sesuai batas waktu yang ditentukan. Tantangan semakin terasa karena lomba dilaksanakan secara daring, sehingga menuntut kemandirian, kedisiplinan, dan fokus dalam berkarya.
Dari ruang kelas sederhana di MTsS Persis Sumedang, langkah kecil ini menjadi bagian dari gerakan literasi yang lebih luas. Melalui TBM Rumah Literasi, semangat menulis dan berpikir kritis terus ditumbuhkan, bahwa setiap gagasan layak ditulis, dan setiap tulisan berpotensi menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Penulis: Mahdi
Editor: Fachri