Kamis, 23 Apr 2026

PRESS RELEASE

Tiga Siswa Angkat Peran TBM Al-Barokah dalam Karya Best Practice Literasi

  • 23 Apr 2026, 08:40 WIB
  • Evi Nursanti Rukmana
  • 3 menit baca
  • 13 kali dibaca
Tiga Siswa Angkat Peran TBM Al-Barokah dalam Karya Best Practice Literasi
23
Apr
26
Kompetisi
Bagikan:

Sumedang, 22 April 2026 — Tiga siswa dari sekolah berbeda mengangkat peran Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Al-Barokah dalam karya best practice literasi yang mereka susun berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara langsung di Dusun Batu Karut, Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang. Karya tersebut tidak hanya menjadi bagian dari tugas akademik, tetapi juga merekam praktik nyata gerakan literasi berbasis komunitas yang tumbuh dari lingkungan sederhana.


Ketiga siswa tersebut yakni Raisa Fakhira A’dila, Ayuri Kirana, dan Vannisa Soraya Mahdiyah Zahirah. Meskipun berasal dari latar sekolah yang berbeda, ketiganya memiliki kesamaan pandangan dalam melihat pentingnya literasi sebagai fondasi pembentukan karakter dan pengetahuan sejak dini. Melalui pendekatan yang berbeda dalam tulisan masing-masing, mereka menghadirkan gambaran yang utuh tentang bagaimana TBM Al-Barokah berperan dalam kehidupan masyarakat sekitar.


Raisa Fakhira A’dila dalam tulisannya berjudul Pemanfaatan Bahan Bacaan Bermutu pada Usia Dini menekankan bahwa kualitas bahan bacaan memiliki peran krusial dalam membentuk pola pikir, imajinasi, serta nilai-nilai moral anak. Ia mengamati bahwa di TBM Al-Barokah, anak-anak tidak hanya diberikan akses buku, tetapi juga diarahkan untuk membaca bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan mereka. Hal ini dinilai penting agar proses literasi tidak hanya bersifat mekanis, tetapi juga bermakna dan berdampak jangka panjang.


Sementara itu, Ayuri Kirana melalui tulisannya Jejak Kecil yang Menumbuhkan Budaya Baca menggambarkan TBM Al-Barokah sebagai ruang sederhana yang menyimpan kekuatan besar. Ia menyoroti bagaimana suasana yang hangat, pendekatan yang ramah, serta interaksi yang humanis antara pengelola dan anak-anak mampu menciptakan kenyamanan. Dari kenyamanan inilah tumbuh kebiasaan membaca secara perlahan, tanpa paksaan, namun berkelanjutan.


Adapun Vannisa Soraya Mahdiyah Zahirah dalam karyanya Mewawancarai Pegiat Literasi mengangkat sisi lain dari TBM, yakni peran penting pengelola dan relawan di balik keberlangsungan kegiatan literasi. Ia menekankan bahwa membangun budaya baca bukanlah proses instan, melainkan membutuhkan kesabaran, konsistensi, serta ketulusan. Melalui wawancara yang dilakukannya, Vannisa menemukan bahwa pendekatan personal kepada anak-anak menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menarik minat baca.


Untuk memperkuat data dan keabsahan informasi, ketiga siswa tersebut melakukan wawancara langsung dengan pengelola TBM Al-Barokah, Mahdi. Dari hasil wawancara terungkap bahwa TBM ini berawal dari kepedulian sederhana terhadap kondisi lingkungan yang minim akses bacaan. Keprihatinan tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk gerakan nyata dengan menyediakan ruang baca dan berbagai kegiatan edukatif bagi anak-anak.


“Awalnya hanya dari kegelisahan sederhana. Kami ingin anak-anak punya akses membaca dan ruang belajar yang nyaman,” ujar Mahdi saat ditemui di lokasi TBM.


Dalam perjalanannya, TBM Al-Barokah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan fasilitas, minimnya koleksi buku, hingga fluktuasi jumlah pengunjung. Namun, dengan semangat gotong royong dan dukungan masyarakat sekitar, kegiatan literasi tetap berjalan. Berbagai program seperti membaca bersama, bimbingan belajar, hingga kegiatan kreatif menjadi strategi untuk menjaga minat anak-anak agar tetap datang dan terlibat.


Mahdi juga mengapresiasi inisiatif para siswa yang telah mendokumentasikan kegiatan TBM dalam bentuk tulisan best practice. Menurutnya, keterlibatan pelajar dalam gerakan literasi merupakan langkah penting dalam memperluas dampak serta menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya membaca.


“Kami berharap tulisan mereka tidak hanya menjadi laporan, tetapi juga mampu menginspirasi siswa lain dan masyarakat luas untuk ikut peduli terhadap literasi,” tambahnya.


Karya best practice yang disusun oleh ketiga siswa tersebut menunjukkan bahwa TBM Al-Barokah tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran, ruang interaksi sosial, dan wadah pembentukan karakter. Dari ruang sederhana di sudut desa, tumbuh upaya nyata yang perlahan namun pasti dalam membangun budaya baca yang berkelanjutan di tengah masyarakat.


Penulis: Mahdi

Editor: Fachri



Terakhir diperbarui: 23 Apr 2026 08:40 WIB