Kamis, 23 Apr 2026

PRESS RELEASE

Gerakan Literasi dari TBM Rumah Literasi Berseri Hidupkan Budaya Baca-Tulis Siswa MTsS Persis

  • 23 Apr 2026, 11:10 WIB
  • Evi Nursanti Rukmana
  • 3 menit baca
  • 1 kali dibaca
Gerakan Literasi dari TBM Rumah Literasi Berseri Hidupkan Budaya Baca-Tulis Siswa MTsS Persis
23
Apr
26
Komunitas
Bagikan:

Sumedang, 22 April 2026 — Upaya menumbuhkan budaya literasi berbasis komunitas terus menunjukkan dampak nyata. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rumah Literasi Berseri di Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, menjadi ruang alternatif pembelajaran yang berhasil mengintegrasikan kegiatan membaca, menulis, dan refleksi bagi siswa MTsS Persis Sumedang.


Berbagai praktik baik literasi dilaksanakan di TBM tersebut, mulai dari penulisan cerpen berbasis pengalaman nyata, kegiatan meresensi buku, hingga refleksi pendidikan melalui momentum Hari Guru Nasional. Kegiatan ini melibatkan sejumlah siswa yang secara aktif mengikuti proses literasi secara bertahap dan berkelanjutan.


Salah satu peserta, Salwa, mengungkapkan bahwa pengalaman menulis cerpen dari peristiwa nyata memberikan pemahaman baru tentang literasi. “Saya menyadari bahwa menulis bukan hanya soal kemampuan merangkai kata, tetapi bagaimana menangkap makna dari pengalaman dan menuangkannya menjadi karya,” ujarnya. Dari kegiatan tersebut, ia berhasil menulis cerpen berjudul Cahaya dari Laboratorium Kecil yang terinspirasi dari interaksi dengan guru di sekolah.


Sementara itu, Luthfiani Soejarwo menyoroti pentingnya kegiatan meresensi buku sebagai bagian dari penguatan literasi. Menurutnya, melalui resensi, siswa tidak hanya membaca, tetapi juga belajar berpikir kritis dan menyampaikan pendapat secara sistematis. “Kegiatan ini membantu kami memahami isi buku lebih dalam dan melatih kemampuan menulis,” katanya.


Hal senada disampaikan Hasna Ramadhani yang melihat TBM sebagai ruang belajar yang lebih fleksibel dan menyenangkan dibandingkan kelas formal. Ia menilai keberadaan TBM mampu meningkatkan minat baca sekaligus membentuk karakter siswa. “Di TBM, kami tidak hanya membaca, tetapi juga berdiskusi dan menulis. Itu membuat belajar terasa lebih hidup,” ungkapnya.


Selain itu, refleksi literasi juga dituangkan dalam bentuk esai oleh Gendis Silvianingtyas yang menggambarkan TBM sebagai “ruang kecil yang melahirkan gerakan sosial.” Ia menilai bahwa literasi di era banjir informasi membutuhkan ruang yang mampu mengajarkan cara memahami, bukan sekadar membaca cepat.


Kegiatan literasi di TBM Rumah Literasi Berseri dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu membaca, mengamati, berdiskusi, merefleksi, dan menulis. Pendekatan ini dinilai efektif karena membentuk siklus literasi yang utuh dan berkesinambungan. Siswa tidak hanya menjadi pembaca pasif, tetapi juga aktif dalam memproduksi karya.


Pengelola TBM menyampaikan bahwa program literasi yang dijalankan tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter. “Kami ingin menghadirkan ruang belajar yang humanis, di mana siswa merasa nyaman untuk membaca, berpikir, dan berkarya,” ujarnya.


Dampak dari kegiatan ini terlihat dari meningkatnya kepercayaan diri siswa dalam menulis, kemampuan berpikir kritis, serta tumbuhnya kepedulian sosial dan apresiasi terhadap guru. Bahkan, beberapa karya siswa mulai dikembangkan menjadi tulisan yang lebih matang dan siap dipublikasikan.


Meski demikian, pelaksanaan kegiatan literasi ini masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti rendahnya kebiasaan membaca mendalam, keterbatasan kosakata siswa, serta distraksi dari penggunaan gawai. Untuk mengatasi hal tersebut, TBM melakukan pendampingan intensif, variasi kegiatan, serta memberikan apresiasi terhadap karya siswa.


Keberadaan TBM Rumah Literasi Berseri menjadi bukti bahwa gerakan literasi tidak harus dimulai dari ruang besar. Dari ruang sederhana di lingkungan masyarakat, lahir praktik baik yang mampu yg membangun ekosistem literasi yang hidup dan berkelanjutan.


Dengan sinergi antara sekolah, komunitas, dan siswa, gerakan literasi ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi model pembelajaran alternatif yang relevan di tengah tantangan pendidikan modern.


Penuli: Mahdi

Editor: Fachri



Terakhir diperbarui: 23 Apr 2026 11:10 WIB